Coret-coret Blog
Blog amatir yang isinya nggak bagus-bagus amat. Semoga Suka!!! (ini nggak maksa, cuma semoga) (Note: tidak semua yang aku tulis adalah aku, dan yang kamu baca adalah kamu)
Minggu, 11 Juni 2017
Harus Mengerti
Rasa Bersalah
Ngerasa bersalah itu nggak enak, sumpah. Kita bakal dihantui sama yang namanya kenggak enakkan hati. Bener sih kita nggak ngelakuin itu dengan sengaja, itu semua pure keapesan kita aja. Kita nggak pernah berniat ngelakuinnya, tapi rasanya ada ketakutan yang besar banget sama penilaian orang lain ke diri kita. Takut jika mereka menganggap kita itu nggak amanah, ceroboh, dan nggak bisa jaga sesuatu milik orang lain. Sebenernya salah nggak sih punya perasaan kayak gitu? Sialnya perasan itu yang bikin kita susah tidur, canggug ketemu sama orangnya secara langsung, trauma sama segala sesuatu yang menyangkut rasa bersalah ini tumbuh dan harus berani tanggung jawab meski kita nggak bener-bener melakukannya.
Mencoba bertanggung jawab juga kadang mengundang ketakutan yang lebih dalam, takut jika tatapan sinisnya mampir dengan sengaja, aku tahu tidak semua orang akan melakukan hal demikian, ada juga mungkin yang hanya menanggapinya dengan senyum penuh keikhlasan. Tapi menjadi satu-satunya orang yang terjebak rasa bersalah, semua pasti akan terlihat rumit bahkan mengembanya bisa membuatmu stres. Jika ingin jujur, aku memang hanya bisa meminta maaf dan bertanggung jawab sesuai kemampuanku, menjadikannya pelajaran berharga, tanpa pernah lupa akan rasa bersalah ini.
Sekali lagi, aku tidak pernah menginginkan semua ini terjadi, menjadikan mu korban tak pernah terpikirkan, bahkan sebelumnya semua terlihat berjalan sesuai alurnya. Jika kamu bertanya ini untuk apa, ini kutujukan untuk rasa bersalahku yang tak berkesudahan, untuk mengatakan apa yang tak pernah bisa benar-benar aku katakan.
Sabtu, 20 Mei 2017
Yang Mengendap
Rabu, 19 April 2017
Si Peran Antagonis
Aku ingin memaki, menyumpahi, menuding mu dengan segala amarah yang telah mendidih menumpahi warasku. Sayang, salah tak memilih mu untuk dijadikan tempat bersandar yang nyaman. Salah lebih memilih aku yang berlumpur tangis karna tak mampu bertahan. Hati ku telah hilang kendali, sopir yang seharusnya menghantarkan rindu yang tak berujung itu telah lama pergi, sirna bersama debu jalanan yang menyesaki. Saat ini kamu memang bahagia, tawa mu yang dulu aku favoritkan terbit tak tenggelam bersamanya. Tapi sungguh, sisi terjahat dalam diriku menginginkan wanita itu juga mencabut benih yang tengah kau siram, menginjaknya hingga rusak, lalu menguburnya dalam-dalam. Jika kamu mengatakan bahwa aku kejam, ya benar, aku memang kamu buat menjadi tokoh antagonis dalam kisah ini. kisah yang kamu buat seolah kamu malaikat tanpa sayap dan dia bidadari yang telah kamu cari, lalu aku, aku hanya menjadi iblis yang muncul sekilas di awal cerita. kamu memang cerdas, melumpuhkanku hanya dengan satu senyum tak terarah, menyeretku dalam kisah mu dan dia yang berakhir bahagia. Kemudian, bagaimana dengan kisah ku? Bukankan tokoh antagonis juga berhak memiliki akhir cerita? ah...kamu memang hebat menempatkan luka ku dalam salah, menyiramnya dengan air garam, lalu kamu tatap kesakitanku dalam kebanggaan.
Esok hari, jika kita berjumpa dalam sebuah kisah kembali, jangan menoleh, jangan menyapa apalagi tersenyum kepadaku. Aku terlalu takut, takut terjerat kembali kedalam peran antagonis yang menyakitkan ini. biarkanlah aku berlalu, berjalan dengan dendangan siul dan mulai mengabaikan mu. Biarkanlah si peran antagonis mencari peran bidadari dalam kisah malaikat lain, tanpa terusik, tanpa kamu menjadi peran antagonis pula dalam kisah malaikat itu. semoga kamu bahagia, setelahnya, biar tuhan yang menentukan apakah doa hati ku yang porak-poranda karena kamu terkabulkan.
Perlahan Hilang
Menggelayut rasa penuh harap, sebuah pencarian memuakkan penuh lara.
Pergilah! Mata mu bahkan tak sudi menatap.
Kebekuan kita memang tak pernah patah.
Jika begitu, salah siapa?
Aku hanya masih ragu, mungkin begitu juga kamu.
Lalu, takdirkah? Ataukah kenangan kita memang hanya tatap?
Kamu dekat, aku seakan tercekat. Kamu tak terlihat, aku mulai sesak.
Entahlah, mungkin aku memang terlalu rumit.
Tapi, bukankah kamu juga demikian?
Datang secepat kilat, tapi hilang tanpa jejak.
Terlalu banyak tanda tanya. Bahkan mungkin Tuhan mulai bosan menjawabnya.
Kamu tidak seutuhnya hilang dari peradaban memang.
Tatap mata terakhir kita hanya sebuah adegan tak kasat mata.
Tapi sungguh, semua terasa berubah.
Kamu memang masih menampilkan senyum itu, tapi tanpa kamu sadari kehadiranku.
Tak apa, pergilah....
Aku bahkan masih ragu tentang kamu.
Aku tentu tahu, kisah ini hanya akan menjadi sebuah frame buram masa lalu.
Jadi, sudahlah. Aku tak akan memaksamu
Pengagum Kisahmu
Kamu itu anomali, tak benar-benar nyata, tapi anehnya membuatku bahagia. Aku mendesah, menyeru namamu dalam kesunyian lalu aku terbangun dengan nafas tersengal. Kamu mungkin fantasi, bayang-bayangku akan pangeran negeri mimpi. Kesempurnaan mu tak wajar, parasmu tak terelakkan, keromantisanmu meluluhkan, namun sayang, sosok mu hanya lah tokoh fiksi belakang. Terkadang aku menggila, menangis tersedu-sedu karena kepedihan mu, tapi tak jarang tersenyum kegirangan akan perilaku romantismu. Aku tahu, aku sangat tahu jika kamu hanya dari tokoh yang aku buat dengan keahlian menulisku sendiri. kamu hanya sosok yang dapat aku rubah sesuai keinginanku, sesuai dengan seperti apa mood ku saat itu. ku pikir aku mulai sedikit tak waras, menyukai mu yang tak pernah benar-benar bernafas, menyukai kepribadianmu yang tak pernah benar-benar ku sapa. Kamu hanya hidup dalam tintaku, berjalan sesuai pikiranku, kemudian lenyap karena sebuah kata tamat. Tak apa, ini tak seberapa, menyukai mu bukan menjadi sesuatu hal yang benar-benar terasa aneh bagiku. Lebih baik menyukai mu dan tak pernah mendapatkan balasan karena kamu memang hanya mengikuti jalan cerita, daripada menyukai seseorang yang terlampau nyata tapi dia mengabaikannya. Salamku untuk para pecinta tokoh fiksi❤❤❤setidaknya kami tidak pernah merebut pacar orang lain di kedidupan asli😂✌
Selasa, 14 Maret 2017
Hujan Untuk Menjadi Kenangan
Air bergemricik, menetes dengan pasti diatas pualam
Dinginnya menusuk, petir menyambar bergantian
Titik-titik air di jendela mulai mengalir
Ada yang tak peduli
meringkuk di balik selimut tebalnya
Namun, banyak pula peduli
duduk menatap keluar jendela yang terasa lembab
Bernostalgia, bagaimana hujan menjadi pengiring kisah mereka
Beberapa terlihat tersenyum seperti orang gila
Beberapa lagi tak sadar bahwa setitik embun telah menumpuk di pelupuk mata
Aku, aku hanya menjadi salah satu orang yang menikmati hujan.
Menikmati suara hujan yang berisik, atau aroma petrichor yang aneh.
Tapi, aku tidak tersenyum, tidak pula bersedih
Karena kenaganku bukan tentang yang lain, hanya tentang hujan.
Hujan yang menjadi sebuah kenangan.
