Rabu, 19 April 2017

Si Peran Antagonis


Aku ingin memaki, menyumpahi, menuding mu dengan segala amarah yang telah mendidih menumpahi warasku. Sayang, salah tak memilih mu untuk dijadikan tempat bersandar yang nyaman. Salah lebih memilih aku yang berlumpur tangis karna tak mampu bertahan. Hati ku telah hilang kendali, sopir yang seharusnya menghantarkan rindu yang tak berujung itu telah lama pergi, sirna bersama debu jalanan yang menyesaki. Saat ini kamu memang bahagia, tawa mu yang dulu aku favoritkan terbit tak tenggelam bersamanya. Tapi sungguh, sisi terjahat dalam diriku menginginkan wanita itu juga mencabut benih yang tengah kau siram, menginjaknya hingga rusak, lalu menguburnya dalam-dalam. Jika kamu mengatakan bahwa aku kejam, ya benar, aku memang kamu buat menjadi tokoh antagonis dalam kisah ini. kisah yang kamu buat seolah kamu malaikat tanpa sayap dan dia bidadari yang telah kamu cari, lalu aku, aku hanya menjadi iblis yang muncul sekilas di awal cerita. kamu memang cerdas, melumpuhkanku hanya dengan satu senyum tak terarah, menyeretku dalam kisah mu dan dia yang berakhir bahagia. Kemudian, bagaimana dengan kisah ku? Bukankan tokoh antagonis juga berhak memiliki akhir cerita? ah...kamu memang hebat menempatkan luka ku dalam salah, menyiramnya dengan air garam, lalu kamu tatap kesakitanku dalam kebanggaan.
Esok hari, jika kita berjumpa dalam sebuah kisah kembali, jangan menoleh, jangan menyapa apalagi tersenyum kepadaku. Aku terlalu takut, takut terjerat kembali kedalam peran antagonis yang menyakitkan ini. biarkanlah aku berlalu, berjalan dengan dendangan siul dan mulai mengabaikan mu. Biarkanlah si peran antagonis mencari peran bidadari dalam kisah malaikat lain, tanpa terusik, tanpa kamu menjadi peran antagonis pula dalam kisah malaikat itu. semoga kamu bahagia, setelahnya, biar tuhan yang menentukan apakah doa hati ku yang porak-poranda karena kamu terkabulkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar