Minggu, 11 Juni 2017

Harus Mengerti



Mentari baru saja mengisi hari, langit cerah dijejali awan di sana-sini, riuh tawa para siswa SMA Budi Sentosa yang sedang melaksanakan jam pelajaran olahraga di lapangan basket, memecahkan kesunyian pagi. Tetapi, diantara tawa itu ada seseorang yang berusaha meneguhkan hati dan menekan amarahnya kuat-kuat.
“Panda Bengkak, bolanya jangan dipegang, bisa-bisa kamu disangka punya kembaran lagi,” teriak seorang cowok yang diikuti tawa seluruh siswa.
Yah, kata-kata itu sudah terlalu sering terdengar di telinga Rara, tapi rasanya amarah Rara tetap saja muncul.
Hei, bagaimana bisa mereka mengatakan hal seperti itu setiap hari? Bukankah itu keterlaluan? Panda Bengkak, mungkin mereka memang lebih menyukai nama itu ketimbang nama Rara. Tapi ayolah, aku benar-benar tidak mirip Panda Bengkak, aku memang memiliki badan yang sedikit gemuk, tapi beratku hanya 65 kg. Cukup wajar untuk ukuran anak SMA bukan? Tolong katakan iya, karena sudah terlalu banyak yang menjawab tidak. Lagi pula, orangtuaku juga memiliki badan yang lumayang besar. Jadi bisa dibilang itu keturunan dan itu bukan sepenuhnya salahku kan? Tapi mengapa mereka selalu mengejekku? Aku bahkan tak pernah menyusahkan orang lain. Aku selalu bisa melakukan apapun sendiri. Ya, sendiri, karena tidak ada yang benar-benar mau menjadi temanku. Ah, rasanya aku ingin mencakar wajahnya, menjambak rambutnya atau apa saja yang bisa membalas ucapannya yang tidak sopan itu. Umpat Rara dalam hati.
 Kemudian, tiba-tiba  saja sebuah bola basket dengan mulusnya mengenai  Rara tepat di wajahnya saat ia hendak menuju ke pinggir lapangan untuk beristirahat. “Ah, sakit sekali!” gumam Rara.
“Aduh, sakit ya? Maaf ya, bolanya tahu aja yang mana saudaranya,” kata  Lusi memelas dengan muka mengejek. Seketika darah Rara mendidih, enak saja dia berbicara. Belum sempat Rara menumpahkan amarahnya, seseorang telah lebih dulu memarahi Lusi dan siapa lagi orang itu jika bukan Andien, teman sebangkunya.“Lusi, kalau meminta maaf yang tulus! Sudah kamu yang salah ditambah  mengejek Rara lagi,” Terkadang, Rara merasa sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Andien, setidaknya ia masih memiliki seorang teman sekaligus sahabat yang dapat mendengarkan segala keluh kesahnya dan membelanya saat teman-temannya yang lain sibuk mengejek dan menertawakannya.
“Memang kenyataannya seperti itu kan? Dia itu bulat seperti bola, alias gendut,” jawab Lusi dengan bangganya.
Cukup, aku tidak tahan mendengar dia terus mengoceh dan mengomentari fisikku. Kepalaku sakit, tapi hatiku lebih sakit lagi. Aku muak, sakit hati, marah, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Jika aku melawanpun aku tahu apa akhirnya, mereka akan semakin mengejek dan menertawakanku dengan lebih kejam lagi. Sungguh aku tidak tahan. Keluh Rara dalam hati sambil berlari meninggalkan lapangan basket tanpa menghiraukan Andien yang terus memanggil dan mengejarnya.
Rara sampai  di taman belakang sekolah, lalu ia duduk dibawah pohon yang agak tertutup dan menangis di sana. Akhirnya benteng pertahanannya runtuh kembali. Ia menangis sejadi-jadinya, tanpa menyadari seseorang telah berada di sampingnya dan memeluknya.
“Sudahlah Ra, jangan masukkan ke hati ucapan Lusi tadi! Bukankan dia memang suka berbicara sembarangan?” hibur Andien.
“Tapi bukan hanya Lusi yang selalu berbicara seperti itu, semua orang juga selalu mengejek dan menertawakanku. Apakah aku seburuk itu di mata mereka?” bantah Rara di sela isakannya.
“Mereka hanya belum mengenalmu lebih dalam. Kamu itu baik kok, dan juga manis,” ucap Andien tulus.
“Tidak Ndien, mereka tidak pernah berpikir seperti itu. Aku capek, aku capek selalu ditertawakan dan diejek oleh mereka. Aku ingin berubah! Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa kurus, bahagia dan punya banyak teman,”
“Iya Ra, aku tahu. Tapi bukankah menjadi diri sendiri itu adalah yang terbaik? Kamu tidak perlu merubah apapun hanya untuk mencari banyak teman. Karena teman yang sebenarnya akan menerima kamu apa adanya,”
“Sudahlah Ndien, kamu tidak tahu bagaimana perasaanku! Aku kesepian karena semua orang menjauhiku, aku sakit hati karena semua orang mengejek dan menertawakanku. Mereka seperti itu hanya karena satu hal, aku gendut, “
“Tapi Ra,”
“CUKUP, aku sudah memutuskan, aku ingin berubah. Aku ingin membuktikan pada semua orang bahwa aku bisa,” potong Rara dengan sedikit membentak.
“Jika kamu tidak mau mendukungku, lebih baik kamu pergi, aku ingi sendiri,” kata Rara dengan kesal.
Andienpun akhirnya meninggalkan Rara sendiri, karena tidak ada gunanya jika ia memberi nasihat pada orang yang sedang emosi dan mungkin saat ini Rara memang butuh untuk sendiri.
“Aku akan berubah,”gumam Rara penuh tekad.
***
Keesokan harinya Rara berangkat ke sekolah dengan semangat dan tekad yang bulat. Tadi pagi-pagi sekali ia bahkan menyempatkan diri untuk jogging. Ia benar-benar ingin kurus dan berubah. Rara masuk ke kelasnya dengan langkah mantap. Setelah meletakkan tas di mejanya, ia melihat gerombolan teman sekelasnya yang tengah asik membicarakan sesuatu di belakang kelas. Iapun menghampiri mereka dengan wajah yang ceria. “Pada ngobrol tentang apa sih?”
Seketika wajah-wajah yang tengah seru membicarakan sesuatu itu, menoleh dan merasa heran dengan sikap Rara pagi ini. Biasanya ia hanya akan duduk sendirian sambil membaca novel di bangkunya tanpa sedikitpun menggubris apapun yang terjadi di kelas.
“Loh, kok malah pada bengong?”tambah Rara saat menyadari teman-temanya terdiam sambil menatapnya.
“Bukan apa-apa. Apaan sih kamu, ganggu aja!”jawab Lusi yang lebih dulu tersadar dari keheranannya.
“Boleh gabung nggak?”tanya Rara polos.
“Terserah” jawab Rika sang ketua kelas cuek.
Merekapun melanjutkan acara menggosip yang sempat terputus itu dengan semangatnya dan tidak menghiraukan Rara sedikitpun yang telah ikut bergabung dengan mereka.
Saat Andien memasuki kelas, ia juga terlihat heran dengan apa yang ia lihat. Tapi tiba-tiba ia teringat ucapan Rara kemarin pagi. Mungkin sekarang Rara telah berhasil mencapai keinginannya, buktinya sekarang dia ikut tertawa bersama segerombol teman sekelasnya. Hanya saja Andien tidak tahu, bahwa Rara tertawa bukan karena ada hal yang lucu, tapi karena dia hanya ikut-ikutan yang lain tertawa. Rara bahkan tidak tahu apa yang sedang dibicarakan.
Mulai hari itu Rara memulai usaha untuk mencapai ambisinya, yaitu menjadi kurus dan memiliki banyak teman. Rara sekarang selalu rajin berolahraga, diet ketat hingga hampir sakit, minum obat pelangsing dan masih banyak lagi. Sedangkan di sekolah, ia akan ikut mendengarkan jika ada segerombol siswa yang tengah berbicara seru, akan menawarkan bantuan pada siswa yang terlihat butuh bantuan, akan menyapa setiap siswa yang ia temuai dengan wajah ceria meski yang disapa malah membuang muka. Rara tidak menyerah untuk berusaha mencapai ambisinya, ia bahkan sering diusir, dibentak, diejek saat tiba-tiba datang dan masuk keobrolan sekelompok siswa, bahkan kebanyakan siswa yang ia bantu hanya akan pergi setelah selesai melakukan sesuatu tanpa mengucapkan terima kasih. Miris? Rasanya Rara benar-benar ingin menangis saat diperlakukan demikian oleh teman-temanya. Tapi ia tidak akan menyerah, tidak akan dan ia akan buktikan itu. Andien yang kerap melihat hal itu karena diam-diam mengamati Rara dari jauh merasa tidak tega. Andien tahu, jika ia menyuruh Rara menyudahi semua ini, Rara akan menolaknya.
Berhari-hari Rara melakukan semua usahanya, perlahan-lahan Lusi dan teman-temanya mulai mendekati Rara. Tetapi ada syarat yang harus dilakukan Rara jika ia ingin bergabung, ia harus membantu mengerjakan tugas Lusi dan teman-temannya. Rara pun mengiyakan, karena ia berpikir apa susahnya jika hanya membantu tugas mereka.
Tanpa disadari, berawalnya pertemanan antara Rara dan Lusi beserta teman-temannya membuat persahabatan Andien dan Rara mulai renggang. Andienpun menyadari ada sedikit keanehan pada pertemanan Rara dan Lusi.
“Ra, aku ingin membicarakan sesuatu!” kata Andien sesaat setelah bel pulang sekolah berbunyi.
“Ada apa Ndien? Hari ini aku sudah punya janji dengan Lusi,” tanya Rara sembari sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
“Aku punya firasat buruk tentang Lusi. Bisakah kamu berhenti berteman dengannya?”
“Sebenarnya maumu apa Ndien? Apakah kamu merasa tersisih oleh Lusi? Atau kamu tidak suka jika aku punya banyak teman?” tanya Rara tidak sabar.
“Bukan begitu, tapi...”
“Sudahlah, kamu memang tak pernah mendukungku. Jadi, jangan pernah mencampuri urusanku! Sebenarnya kamu sahabatku atau bukan?” potong Rara membentak sambil menatap  tajam Andien.
“Ra, kenapa kamu jadi membentakku? Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, itu saja,” kata Andien mulai sedikit kesal dengan sikap Rara.
“Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat tentang hal ini,” putus Rara, lalu berjalan ke luar kelas untuk menghampiri Lusi dan teman-temannya.
***
Kebahagiaan Rara sedikit demi sedikit mulai hilang, Ia sudah tidak bersemangat untuk diet dan olahraga, karena itu hanya menyiksa diri, tapi beratnya hanya turun sedikit. Ia tidak lagi merasa senang jika diajak pergi oleh teman-teman barunya, karena ujung-ujungnya pasti teman-temannya akan meminta traktir. Ia juga tidak lagi merasa senang saat teman-teman barunya mulai merengek-rengek meminta dibantu mengerjakan tugas, karena pasti akhirnya hanya Rara yang mengerjakan tugas itu. Entahlah, Rara mulai merasakan sesuatu yang salah. Rara rindu sahabatnya Andien, tapi ia terlalu gengsi mengakuinya. Lagi pula Andien mungkin masih marah dengan perkataanya tempo hari. Buktinya Andien hanya diam setiap hari, tanpa sedikitpun menyapa atau menegur Rara setelah kejadian itu.
 Meskipun mulai penat dengan pertemanan barunya yang terasa mulai tidak sesuai dengan hatinya, tapi lagi-lagi Rara harus terjebak untuk mengerjakan tugas Lusi. Lusi sendiri tadi bilang bahwa ia akan ke toilet sebentar, tapi sampai 30 menit terlewati ia masih belum kembali ke kelas. Rara yang mulai merasa kesal segera menuju ke toilet, berniat mencari Lusi. Tapi saat sampai di depan kantin, ia seperti mendengar suara Lusi. Rara berniat masuk, sampai ia mendengar Lusi menyebut-nyebut panggilan yang dari dulu telah dinobatkan menjadi nama kedua Rara.
“Si Panda Bengkak? Masih di kelaslah, biasalah sok baik ngerjain tugasku,”
“Wah parah kamu Lus, bukanya sekaraang kamu sudah berteman dengan dia?” komentar seseorang entah siapa.
“Berteman, sejak kapan? Malas sekali aku harus berteman dengan cewek gendut itu!”
Rara mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan gejolak emosi yang telah memuncak. Ia tidak menyangka Lusi ternyata tidak pernah menanggapnya teman, ia bahkan dimanfaatkan.
“Lusi, tega sekali kamu!” bentak Rara menghampiri Lusi.
Lusi agak terkejut, tapi buru-buru ia hilangkan mimik muka itu dan digantikan wajah tenang tanpa rasa bersalahnya. “Tega apanya? Aku memang tidak pernah bilang mau menjadi temanmu kan? Jadi, apa memangnya salahku?”
Rara geram, ia layangkan sebuah tamparan keras di wajah Lusi. Kemudian pergi keluark kantin, meninggalkan Lusi yang masih terkejut. Namun beberapa detik kemudian Lusi tersadar dan langsung mengeluarkan makian dan sumpah serapah kepada Rara. Rara tak menghiraukannya, ia merasa tertipu, sakit hati dan kecewa. Mengapa Lusi tega memanfaatkannya? Rara merasa bodoh, ia kehilangan sahabat satu-satunya hanya untuk mendapat banyak teman yang palsu. Ia terduduk di bawah pohon taman belakang sekolah, tempat di mana ia bisa menangis sepuasnya. Ia tenggelamkan wajahnya diantara lutut, agar suara isakannya yang begitu hebat teredam. “Ada apa?” tanya seseorang. Rara menengadah, terlihat Andien dengan wajah cemas, tetapi berusaha terlihat tidak perduli. Tanpa menunggu aba-aba, Rara langsung memeluknya dengan isakan yang semakin menjadi.
“Maaf Ndien, maaf! Kamu benar, Lusi tidak pernah menganggapku teman, dia hanya memanfaatkanku,” ucap Rara lirih.
“Lalu?” tanya Andien. Namun Rara hanya diam, ia tahu ia telah menyakiti hati Andien.
“Jujur Ra, aku kecewa waktu kamu membentakku saat itu. Kamu mulai berubah dan menjauhiku. Aku kecewa, sangat kecewa!” lanjut Andien.
“Maaf Ndien, aku terlalu buta hanya karena ambisiku untuk menjadi kurus dan memiliki banyak teman, aku hanya ingin seperti yang lain. Punya kehidupan yang bahagia tanpa dijauhi. Tapi ternyata mereka semua palsu, mereka membohongiku,”
Rara dan Andien sama-sama diam, menyisakan hening yang begitu menyiksa.
“Ku mohon, maafkan aku!” pinta Rara mulai frustasi.
“Aku bisa memaafkanmu, tapi rasa kecewaku mungkin butuh waktu,” ucap Andien akhirnya, lalu membalas pelukan Rara.
“Terima kasih!” ucap Rara mengurai pelukannya.
“Kamu benar Ndien, sahabat dan teman yang sesungguhnya adalah orang yang bisa menerima kita apa adanya, tidak pernah menuntut banyak dan yang terpenting, tidak memanfaatkan sahabatnya sendiri,” kata Rara diikuti senyum. Mereka berdua akhirnya tersenyum bersama.
Rara menyadari, fisik yang tak seperti apa yang kita inginkan bukan sesuatu yang harus disesali ataupun dibenci, tapi harus kita syukuri. Karena Allah tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Lagi pula, cukup satu orang yang benar-benar tulus menerima kekurangan kita, daripada beratus atau beribu-ribu orang, tapi tidak sepenuhnya tulus.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar