Mentari
baru saja mengisi hari, langit cerah dijejali awan di sana-sini, riuh tawa para
siswa SMA Budi Sentosa yang sedang melaksanakan jam pelajaran olahraga di
lapangan basket, memecahkan kesunyian pagi. Tetapi, diantara tawa itu ada
seseorang yang berusaha meneguhkan hati dan menekan amarahnya kuat-kuat.
“Panda
Bengkak, bolanya jangan dipegang, bisa-bisa kamu disangka punya kembaran lagi,”
teriak seorang cowok yang diikuti tawa seluruh siswa.
Yah,
kata-kata itu sudah terlalu sering terdengar di telinga Rara, tapi rasanya
amarah Rara tetap saja muncul.
Hei,
bagaimana bisa mereka mengatakan hal seperti itu setiap hari? Bukankah itu
keterlaluan? Panda Bengkak, mungkin mereka memang lebih menyukai nama itu
ketimbang nama Rara. Tapi ayolah, aku benar-benar tidak mirip Panda Bengkak,
aku memang memiliki badan yang sedikit gemuk, tapi beratku hanya 65 kg. Cukup
wajar untuk ukuran anak SMA bukan? Tolong katakan iya, karena sudah terlalu
banyak yang menjawab tidak. Lagi pula, orangtuaku juga memiliki badan yang
lumayang besar. Jadi bisa dibilang itu keturunan dan itu bukan sepenuhnya
salahku kan? Tapi mengapa mereka selalu mengejekku? Aku bahkan tak pernah
menyusahkan orang lain. Aku selalu bisa melakukan apapun sendiri. Ya, sendiri,
karena tidak ada yang benar-benar mau menjadi temanku. Ah, rasanya aku ingin
mencakar wajahnya, menjambak rambutnya atau apa saja yang bisa membalas
ucapannya yang tidak sopan itu. Umpat Rara dalam hati.
Kemudian, tiba-tiba saja sebuah bola basket dengan mulusnya
mengenai Rara tepat di wajahnya saat ia
hendak menuju ke pinggir lapangan untuk beristirahat. “Ah, sakit sekali!” gumam
Rara.
“Aduh,
sakit ya? Maaf ya, bolanya tahu aja yang mana saudaranya,” kata Lusi memelas dengan muka mengejek. Seketika
darah Rara mendidih, enak saja dia berbicara. Belum sempat Rara menumpahkan
amarahnya, seseorang telah lebih dulu memarahi Lusi dan siapa lagi orang itu
jika bukan Andien, teman sebangkunya.“Lusi, kalau meminta maaf yang tulus!
Sudah kamu yang salah ditambah mengejek
Rara lagi,” Terkadang, Rara merasa sangat bersyukur memiliki sahabat seperti
Andien, setidaknya ia masih memiliki seorang teman sekaligus sahabat yang dapat
mendengarkan segala keluh kesahnya dan membelanya saat teman-temannya yang lain
sibuk mengejek dan menertawakannya.
“Memang
kenyataannya seperti itu kan? Dia itu bulat seperti bola, alias gendut,” jawab
Lusi dengan bangganya.
Cukup,
aku tidak tahan mendengar dia terus mengoceh dan mengomentari fisikku. Kepalaku
sakit, tapi hatiku lebih sakit lagi. Aku muak, sakit hati, marah, tapi aku
tidak bisa melakukan apa-apa. Jika aku melawanpun aku tahu apa akhirnya, mereka
akan semakin mengejek dan menertawakanku dengan lebih kejam lagi. Sungguh aku
tidak tahan. Keluh Rara dalam hati sambil berlari meninggalkan lapangan basket
tanpa menghiraukan Andien yang terus memanggil dan mengejarnya.
Rara
sampai di taman belakang sekolah, lalu
ia duduk dibawah pohon yang agak tertutup dan menangis di sana. Akhirnya
benteng pertahanannya runtuh kembali. Ia menangis sejadi-jadinya, tanpa
menyadari seseorang telah berada di sampingnya dan memeluknya.
“Sudahlah
Ra, jangan masukkan ke hati ucapan Lusi tadi! Bukankan dia memang suka berbicara
sembarangan?” hibur Andien.
“Tapi
bukan hanya Lusi yang selalu berbicara seperti itu, semua orang juga selalu
mengejek dan menertawakanku. Apakah aku seburuk itu di mata mereka?” bantah
Rara di sela isakannya.
“Mereka
hanya belum mengenalmu lebih dalam. Kamu itu baik kok, dan juga manis,” ucap
Andien tulus.
“Tidak
Ndien, mereka tidak pernah berpikir seperti itu. Aku capek, aku capek selalu ditertawakan
dan diejek oleh mereka. Aku ingin berubah! Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa
kurus, bahagia dan punya banyak teman,”
“Iya
Ra, aku tahu. Tapi bukankah menjadi diri sendiri itu adalah yang terbaik? Kamu
tidak perlu merubah apapun hanya untuk mencari banyak teman. Karena teman yang
sebenarnya akan menerima kamu apa adanya,”
“Sudahlah
Ndien, kamu tidak tahu bagaimana perasaanku! Aku kesepian karena semua orang
menjauhiku, aku sakit hati karena semua orang mengejek dan menertawakanku.
Mereka seperti itu hanya karena satu hal, aku gendut, “
“Tapi
Ra,”
“CUKUP,
aku sudah memutuskan, aku ingin berubah. Aku ingin membuktikan pada semua orang
bahwa aku bisa,” potong Rara dengan sedikit membentak.
“Jika
kamu tidak mau mendukungku, lebih baik kamu pergi, aku ingi sendiri,” kata Rara
dengan kesal.
Andienpun
akhirnya meninggalkan Rara sendiri, karena tidak ada gunanya jika ia memberi
nasihat pada orang yang sedang emosi dan mungkin saat ini Rara memang butuh untuk
sendiri.
“Aku
akan berubah,”gumam Rara penuh tekad.
***
Keesokan
harinya Rara berangkat ke sekolah dengan semangat dan tekad yang bulat. Tadi
pagi-pagi sekali ia bahkan menyempatkan diri untuk jogging. Ia benar-benar ingin kurus dan berubah. Rara masuk ke
kelasnya dengan langkah mantap. Setelah meletakkan tas di mejanya, ia melihat
gerombolan teman sekelasnya yang tengah asik membicarakan sesuatu di belakang
kelas. Iapun menghampiri mereka dengan wajah yang ceria. “Pada ngobrol tentang
apa sih?”
Seketika
wajah-wajah yang tengah seru membicarakan sesuatu itu, menoleh dan merasa heran
dengan sikap Rara pagi ini. Biasanya ia hanya akan duduk sendirian sambil
membaca novel di bangkunya tanpa sedikitpun menggubris apapun yang terjadi di
kelas.
“Loh,
kok malah pada bengong?”tambah Rara saat menyadari teman-temanya terdiam sambil
menatapnya.
“Bukan
apa-apa. Apaan sih kamu, ganggu aja!”jawab Lusi yang lebih dulu tersadar dari
keheranannya.
“Boleh
gabung nggak?”tanya Rara polos.
“Terserah”
jawab Rika sang ketua kelas cuek.
Merekapun
melanjutkan acara menggosip yang sempat terputus itu dengan semangatnya dan
tidak menghiraukan Rara sedikitpun yang telah ikut bergabung dengan mereka.
Saat
Andien memasuki kelas, ia juga terlihat heran dengan apa yang ia lihat. Tapi
tiba-tiba ia teringat ucapan Rara kemarin pagi. Mungkin sekarang Rara telah
berhasil mencapai keinginannya, buktinya sekarang dia ikut tertawa bersama
segerombol teman sekelasnya. Hanya saja Andien tidak tahu, bahwa Rara tertawa
bukan karena ada hal yang lucu, tapi karena dia hanya ikut-ikutan yang lain
tertawa. Rara bahkan tidak tahu apa yang sedang dibicarakan.
Mulai
hari itu Rara memulai usaha untuk mencapai ambisinya, yaitu menjadi kurus dan
memiliki banyak teman. Rara sekarang selalu rajin berolahraga, diet ketat
hingga hampir sakit, minum obat pelangsing dan masih banyak lagi. Sedangkan di
sekolah, ia akan ikut mendengarkan jika ada segerombol siswa yang tengah
berbicara seru, akan menawarkan bantuan pada siswa yang terlihat butuh bantuan,
akan menyapa setiap siswa yang ia temuai dengan wajah ceria meski yang disapa
malah membuang muka. Rara tidak menyerah untuk berusaha mencapai ambisinya, ia
bahkan sering diusir, dibentak, diejek saat tiba-tiba datang dan masuk
keobrolan sekelompok siswa, bahkan kebanyakan siswa yang ia bantu hanya akan
pergi setelah selesai melakukan sesuatu tanpa mengucapkan terima kasih. Miris?
Rasanya Rara benar-benar ingin menangis saat diperlakukan demikian oleh
teman-temanya. Tapi ia tidak akan menyerah, tidak akan dan ia akan buktikan
itu. Andien yang kerap melihat hal itu karena diam-diam mengamati Rara dari
jauh merasa tidak tega. Andien tahu, jika ia menyuruh Rara menyudahi semua ini,
Rara akan menolaknya.
Berhari-hari
Rara melakukan semua usahanya, perlahan-lahan Lusi dan teman-temanya mulai
mendekati Rara. Tetapi ada syarat yang harus dilakukan Rara jika ia ingin
bergabung, ia harus membantu mengerjakan tugas Lusi dan teman-temannya. Rara
pun mengiyakan, karena ia berpikir apa susahnya jika hanya membantu tugas mereka.
Tanpa
disadari, berawalnya pertemanan antara Rara dan Lusi beserta teman-temannya
membuat persahabatan Andien dan Rara mulai renggang. Andienpun menyadari ada
sedikit keanehan pada pertemanan Rara dan Lusi.
“Ra,
aku ingin membicarakan sesuatu!” kata Andien sesaat setelah bel pulang sekolah
berbunyi.
“Ada
apa Ndien? Hari ini aku sudah punya janji dengan Lusi,” tanya Rara sembari
sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
“Aku
punya firasat buruk tentang Lusi. Bisakah kamu berhenti berteman dengannya?”
“Sebenarnya
maumu apa Ndien? Apakah kamu merasa tersisih oleh Lusi? Atau kamu tidak suka
jika aku punya banyak teman?” tanya Rara tidak sabar.
“Bukan
begitu, tapi...”
“Sudahlah,
kamu memang tak pernah mendukungku. Jadi, jangan pernah mencampuri urusanku!
Sebenarnya kamu sahabatku atau bukan?” potong Rara membentak sambil menatap tajam Andien.
“Ra,
kenapa kamu jadi membentakku? Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi
padamu, itu saja,” kata Andien mulai sedikit kesal dengan sikap Rara.
“Sudahlah,
tidak ada gunanya berdebat tentang hal ini,” putus Rara, lalu berjalan ke luar
kelas untuk menghampiri Lusi dan teman-temannya.
***
Kebahagiaan
Rara sedikit demi sedikit mulai hilang, Ia sudah tidak bersemangat untuk diet
dan olahraga, karena itu hanya menyiksa diri, tapi beratnya hanya turun
sedikit. Ia tidak lagi merasa senang jika diajak pergi oleh teman-teman
barunya, karena ujung-ujungnya pasti teman-temannya akan meminta traktir. Ia juga
tidak lagi merasa senang saat teman-teman barunya mulai merengek-rengek meminta
dibantu mengerjakan tugas, karena pasti akhirnya hanya Rara yang mengerjakan
tugas itu. Entahlah, Rara mulai merasakan sesuatu yang salah. Rara rindu
sahabatnya Andien, tapi ia terlalu gengsi mengakuinya. Lagi pula Andien mungkin
masih marah dengan perkataanya tempo hari. Buktinya Andien hanya diam setiap
hari, tanpa sedikitpun menyapa atau menegur Rara setelah kejadian itu.
Meskipun mulai penat dengan pertemanan barunya
yang terasa mulai tidak sesuai dengan hatinya, tapi lagi-lagi Rara harus terjebak
untuk mengerjakan tugas Lusi. Lusi sendiri tadi bilang bahwa ia akan ke toilet
sebentar, tapi sampai 30 menit terlewati ia masih belum kembali ke kelas. Rara
yang mulai merasa kesal segera menuju ke toilet, berniat mencari Lusi. Tapi
saat sampai di depan kantin, ia seperti mendengar suara Lusi. Rara berniat
masuk, sampai ia mendengar Lusi menyebut-nyebut panggilan yang dari dulu telah
dinobatkan menjadi nama kedua Rara.
“Si
Panda Bengkak? Masih di kelaslah, biasalah sok baik ngerjain tugasku,”
“Wah
parah kamu Lus, bukanya sekaraang kamu sudah berteman dengan dia?” komentar
seseorang entah siapa.
“Berteman,
sejak kapan? Malas sekali aku harus berteman dengan cewek gendut itu!”
Rara
mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan gejolak emosi yang telah memuncak. Ia
tidak menyangka Lusi ternyata tidak pernah menanggapnya teman, ia bahkan
dimanfaatkan.
“Lusi,
tega sekali kamu!” bentak Rara menghampiri Lusi.
Lusi
agak terkejut, tapi buru-buru ia hilangkan mimik muka itu dan digantikan wajah
tenang tanpa rasa bersalahnya. “Tega apanya? Aku memang tidak pernah bilang mau
menjadi temanmu kan? Jadi, apa memangnya salahku?”
Rara
geram, ia layangkan sebuah tamparan keras di wajah Lusi. Kemudian pergi keluark
kantin, meninggalkan Lusi yang masih terkejut. Namun beberapa detik kemudian Lusi
tersadar dan langsung mengeluarkan makian dan sumpah serapah kepada Rara. Rara
tak menghiraukannya, ia merasa tertipu, sakit hati dan kecewa. Mengapa Lusi
tega memanfaatkannya? Rara merasa bodoh, ia kehilangan sahabat satu-satunya
hanya untuk mendapat banyak teman yang palsu. Ia terduduk di bawah pohon taman
belakang sekolah, tempat di mana ia bisa menangis sepuasnya. Ia tenggelamkan
wajahnya diantara lutut, agar suara isakannya yang begitu hebat teredam. “Ada
apa?” tanya seseorang. Rara menengadah, terlihat Andien dengan wajah cemas,
tetapi berusaha terlihat tidak perduli. Tanpa menunggu aba-aba, Rara langsung
memeluknya dengan isakan yang semakin menjadi.
“Maaf
Ndien, maaf! Kamu benar, Lusi tidak pernah menganggapku teman, dia hanya
memanfaatkanku,” ucap Rara lirih.
“Lalu?”
tanya Andien. Namun Rara hanya diam, ia tahu ia telah menyakiti hati Andien.
“Jujur
Ra, aku kecewa waktu kamu membentakku saat itu. Kamu mulai berubah dan
menjauhiku. Aku kecewa, sangat kecewa!” lanjut Andien.
“Maaf
Ndien, aku terlalu buta hanya karena ambisiku untuk menjadi kurus dan memiliki
banyak teman, aku hanya ingin seperti yang lain. Punya kehidupan yang bahagia
tanpa dijauhi. Tapi ternyata mereka semua palsu, mereka membohongiku,”
Rara
dan Andien sama-sama diam, menyisakan hening yang begitu menyiksa.
“Ku
mohon, maafkan aku!” pinta Rara mulai frustasi.
“Aku
bisa memaafkanmu, tapi rasa kecewaku mungkin butuh waktu,” ucap Andien
akhirnya, lalu membalas pelukan Rara.
“Terima
kasih!” ucap Rara mengurai pelukannya.
“Kamu
benar Ndien, sahabat dan teman yang sesungguhnya adalah orang yang bisa
menerima kita apa adanya, tidak pernah menuntut banyak dan yang terpenting,
tidak memanfaatkan sahabatnya sendiri,” kata Rara diikuti senyum. Mereka berdua
akhirnya tersenyum bersama.
Rara
menyadari, fisik yang tak seperti apa yang kita inginkan bukan sesuatu yang
harus disesali ataupun dibenci, tapi harus kita syukuri. Karena Allah tahu apa
yang terbaik untuk hambanya. Lagi pula, cukup satu orang yang benar-benar tulus
menerima kekurangan kita, daripada beratus atau beribu-ribu orang, tapi tidak
sepenuhnya tulus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar