Sabtu, 20 Mei 2017

Yang Mengendap



Ku tekan ia kuat-kuat,
Luberan yang merembes ku usap kasar
Ada yang berdentum di lubuk ini
Asap yang keluar dari telinga mungkin melebihi polusi pabrik
Aku tak dapat berteriak gusar,
Menunjukkan segala amarah yang terkubur terlalu dalam
Rasanya ada yang tersangkut di tenggorokan, mengunci semua ledakan hingga teredam
Tak perlu terlalu sering mengeluh karena kemarahanmu padaku
Setidaknya raut jengkelmu dapat menuntaskannya
Awalnya aku memang hanya berusaha mengalah
Mencari titik teraman agar semua terasa nyaman
Namun akhirnya kamu marah
Marah akan sikapku yang membuat mu seakan disalahkan
Aku mulai bingung bersikap,
Sikap mengalahku kamu salahkan, namun tak jarang kamu juga marah bila aku mengatakan yang sejujurnya
Kepahamanku benar-benar menghilang, titik terjenuhku mulai terkuak
Semakin lama aku jengkel, kesal akan amarahmu yang seakan sili berganti
Tapi lagi-lagi, harus kutelan bula-bulat semua amarah yang merasuk
Menenggelamkan semua ke dasar hingga makin mengendap
          Aku ingin sepertimu, bukan aku yang hanya seperti boneka barbie lucu
Aku ingin menampilkan semua ekspresi yang ada, bukan hanya tersenyum dan membiarkan orang lain mempermainkanku
Tak perlu lagi kamu mengumpat, menyalahkanku akan semua sikap mengalahku yang kamu benci
Aku memang lemah, tak pernah benar-benar berani mengutarakan amarahku
Namu setidaknya aku berusaha, berusaha menjaga hati mu
Jika usahaku memang salah, tolong ajarkan aku bagaimana cara mengekspresikan rasa kesal ku kepada mu


A/N : Orang yang bersalah