Wanita Tua
Karya: Desti
Andrias w.
Aku menyusuri
jalan trotoar yang amat lengang. Sudah sangat terik, tapi kakiku tidak ingin
berhenti menapaki kota yang baru sehari aku tinggali, Kota Jakarta. Secuil
pikiran bergelayut di kepalaku, tentang sebuah kehidupan nyaman yang dijanjikan
kota ini. Kehidupan yang selalu aku dengar dari orang-orang yang lebih dulu
merantau.
Aku terus
melangkah, pandanganku terhentipada seorang wanita tua peminta-minta di
seberang jalan. Entah mengapa perhatianku tak ingin teralih darinya. Sudah 15 menit
sejak aku memperhatikan wanita tua itu, ia terus meminta belas kasih dari
pejalan kaki yang leway di hadapannya. Termasuk seorang laki-laki berumur
kira-kira 30 tahun yang sedang berbicara di telepon.
“Pak,
kasihani saya Pak! Saya belum makan dari kemarin, kasihan Pak!” Wanita tua itu
terus meminta dan mulai mengikuti langkah laki-laki itu dengan tubuh
bungkuknya.
“Kasihani
saya Pak! Saya belum makan.”
Merasa terusik,
laki-laki itumematikan handphonnya dengan kasar dan berbalik
“Nek,
jangan ngikutin saya kenapa sih? Kalau mau ngemis sana ditempat lain! Saya sedang
sibuk.” bentak laki-laki itu. Tapi sang wanita tua diam tak bergeming dan itu
membuat sang laki-laki bertambah jengkel.
“Nenek
nggak budeg kan? Sana pergi! Oh, nenek mau uang?” Laki-laki itupun mengeluarkan
dua lembar uang seribuan yang sudah lusuh. Melemparkannya dengan kasar di depan
wajah sang nenek.
“Nih,
san pergi! Membuang waktu saja.” usir laki-laki itu sambil agak mendorong
sampai sang wanita tua terjungkal ke trotoar. Kemudian ia melenggang pergi
dengan terus mengumpat. Wanita tua itupun hanya biya mengelus dada, matanya
nanar dan berkaca-kaca.
Aku yang
melihat setiap detail kejadianitu hanya dapat berdiri mematung. Aku sangat
bingung, seharusnya aku berlari menyebrang jalan dan membantu wanita tua yang
sangat shock itu. Tapi di dalam pikiranku berkecamuk hebat tentang apakah
nasibku akan seperti wanita tua itu, atau bahkan lebih buruk? Apakah kota ini
begitu kejam sampai wanita tua renta yang bahkan mungkin telah berada di kota
ini berpuluh-puluh tahun terasing begitu saja menjadi pengemis yang hanya bisa
diam saat dimaki dan diperlakukan kasar oleh orang yang jauh lebih muda
darinya? Bagaimana denganku, seorang pendatang yang karena tergiur cerita orang
tentang enaknya hidup di Jakarta rela meninggalkan keluarganya.
Aku mengusir
semua pikiran itu dengan paksa, kemudian bergegas menghampiri wanita tua itu.
“Nenek
tidak apa-apa?” tanyaku dengan lembut dan membantunya berdiri.
“Nenek
baik-baik saja, terima kasih nak.” Ia menatapku lalu tersenyum.
Aku mengeluarkan
uang lima puluh ribuan dari saku celana, menyodorkan kepada wanita tua itu.
“Ini
untuk nenek, semoga bermanfaat. Hti-hati ya nek!”
“Terima kasih
nak, kamu baik sekali.”
Aku
hanya membalasnya dengan senyum kemudian berlalu dengan hati dan pikiran kacau.
@@@
Sudah
2 minggu sejak peristiwa wanita tua pengemis itu. Peristiwa yang cukup
membuatku memikirkan kembali tentang keputusanku merantau di kota ini. Apalagi 1
minggu sudah, aku mencari pekerjaan setelah itu. Tapi aku tetap tidak diterima
bekerja disatu tempat manapun.
“Tenanglah,
masih ada hari esok.” Aku terus mengokohkan hatiku, walaupun bayangan tentang
nasib burukku di kota ini sejak hari pertama seperti menerorku. Sialnya aku
baru menyadari bahwa uangku benar-benar menipis, hanya tersisa empat lembar
seratus ribuan di dompetku. Semua ini lagi-lagi memaksaku kembali berpikir
keras tentang terus mencari kehidupan nyaman dengan sis uangku atau pulang ke
kampung, sebelum aku benar-benar menjadi pengemis seperti wanita tua itu dan
menjadi gelandangan sampai akhir hidupku. Aku tahu emak dan bapak tidak akan
marah jika aku pulang, walaupun bapak sampai menjual sapinya untuk ongkos aku
ke Jakarta. Tapi aku yidak ingin pengorbanan bapak sia-sia karena
keputusasaanku.
Aku
mulai berkompromi dengan hatiku, kuputuskan untuk tinggal sehari dan berjuang
mencari kerja. Jika memang gagal, dengan terpaksa aku pulang ke kampung.
Aku
memasuki sebuah toko alat tulis yang cukup besar, sudah 5 tempat aku melamar
pekerjaan hari ini. Tapi semuanya menolakku dengan alasan yang hampir sama
hari-hari sebelumnya, ijasahku yang hanya setingkat SMP. Mbak penjaga toko
menyambutku dengan ramah.
“Selamat
siang, mau cari apa kak?”
“Em...
saya mau melamar kerja.” jawabku sopan. Mbak penjaga toko tadi masuk ke ruangan
pegawai yang ada di belakang dan memanggil pemilik toko. Sesaat kemudian muncul
seorang wanita tua dengan rambut sebahu yang sudah memutih dan kacamata di
hidungnya. Aku ternganga, meskipun dengan tubuh dan baju yang bersih, jalannya
yang cukup tegak, tidak membungkuk seperti saat aku pertama melihatnya di
trotoar jalan 1 minggu lalu. Aku masih dapat mengenalnya dengan jelas.
“Mbak
yang mau melamar kerja?” tanya wanita tua itu.
“iya.”
jawabku singkat dengan masih terpaku
padanya. Ia menanyakan banyak hal setelahnya, tapi entahlah, aku tidak begitu
memperhatikannya. Perhatianku hanya terpusat pada wajah di hadapanku dan
kejadian 1 minggu lalu di trotoar jalan. Hingga tanpa sadar aku tersenyum dan
menggumam kecil. “siallllll”
“Mbak!
Saya mau pesan.” Aku tersadar dari lamunanku dan bergegas menghampiri meja
pengunjung. Ya, aku tidak diterima bekerja di toko alat tulis itu. Tapi entahlah,
setelah itu aku menjadi sangat optimis pada kehidupanku di Jakarta dan akhirnya
di sinilah aku, menjadi pelayang di sebuah rumah makan masakan khas Bandung.
Bukan pekerjaan yang sangat menjanjikan memang, tapi itu lebih terhormat
daripada menjadi peminta-minta, walaupun itu dapat menjadikanku jutawan. Haha,
lagi-lagi aku teringat wanita tua itu.