Kamis, 10 Maret 2016

Wanita Tua


Wanita Tua
Karya: Desti Andrias w.
            Aku menyusuri jalan trotoar yang amat lengang. Sudah sangat terik, tapi kakiku tidak ingin berhenti menapaki kota yang baru sehari aku tinggali, Kota Jakarta. Secuil pikiran bergelayut di kepalaku, tentang sebuah kehidupan nyaman yang dijanjikan kota ini. Kehidupan yang selalu aku dengar dari orang-orang yang lebih dulu merantau.
            Aku terus melangkah, pandanganku terhentipada seorang wanita tua peminta-minta di seberang jalan. Entah mengapa perhatianku tak ingin teralih darinya. Sudah 15 menit sejak aku memperhatikan wanita tua itu, ia terus meminta belas kasih dari pejalan kaki yang leway di hadapannya. Termasuk seorang laki-laki berumur kira-kira 30 tahun yang sedang berbicara di telepon.
            “Pak, kasihani saya Pak! Saya belum makan dari kemarin, kasihan Pak!” Wanita tua itu terus meminta dan mulai mengikuti langkah laki-laki itu dengan tubuh bungkuknya.
            “Kasihani saya Pak! Saya belum makan.”
            Merasa terusik, laki-laki itumematikan handphonnya dengan kasar dan berbalik
            “Nek, jangan ngikutin saya kenapa sih? Kalau mau ngemis sana ditempat lain! Saya sedang sibuk.” bentak laki-laki itu. Tapi sang wanita tua diam tak bergeming dan itu membuat sang laki-laki bertambah jengkel.
            “Nenek nggak budeg kan? Sana pergi! Oh, nenek mau uang?” Laki-laki itupun mengeluarkan dua lembar uang seribuan yang sudah lusuh. Melemparkannya dengan kasar di depan wajah sang nenek.
            “Nih, san pergi! Membuang waktu saja.” usir laki-laki itu sambil agak mendorong sampai sang wanita tua terjungkal ke trotoar. Kemudian ia melenggang pergi dengan terus mengumpat. Wanita tua itupun hanya biya mengelus dada, matanya nanar dan berkaca-kaca.
            Aku yang melihat setiap detail kejadianitu hanya dapat berdiri mematung. Aku sangat bingung, seharusnya aku berlari menyebrang jalan dan membantu wanita tua yang sangat shock itu. Tapi di dalam pikiranku berkecamuk hebat tentang apakah nasibku akan seperti wanita tua itu, atau bahkan lebih buruk? Apakah kota ini begitu kejam sampai wanita tua renta yang bahkan mungkin telah berada di kota ini berpuluh-puluh tahun terasing begitu saja menjadi pengemis yang hanya bisa diam saat dimaki dan diperlakukan kasar oleh orang yang jauh lebih muda darinya? Bagaimana denganku, seorang pendatang yang karena tergiur cerita orang tentang enaknya hidup di Jakarta rela meninggalkan keluarganya.
            Aku mengusir semua pikiran itu dengan paksa, kemudian bergegas menghampiri wanita tua itu.
            “Nenek tidak apa-apa?” tanyaku dengan lembut dan membantunya berdiri.
            “Nenek baik-baik saja, terima kasih nak.” Ia menatapku lalu tersenyum.
            Aku mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari saku celana, menyodorkan kepada wanita tua itu.
            “Ini untuk nenek, semoga bermanfaat. Hti-hati ya nek!”
            “Terima kasih nak, kamu baik sekali.”
            Aku hanya membalasnya dengan senyum kemudian berlalu dengan hati dan pikiran kacau.
@@@
            Sudah 2 minggu sejak peristiwa wanita tua pengemis itu. Peristiwa yang cukup membuatku memikirkan kembali tentang keputusanku merantau di kota ini. Apalagi 1 minggu sudah, aku mencari pekerjaan setelah itu. Tapi aku tetap tidak diterima bekerja disatu tempat manapun.
            “Tenanglah, masih ada hari esok.” Aku terus mengokohkan hatiku, walaupun bayangan tentang nasib burukku di kota ini sejak hari pertama seperti menerorku. Sialnya aku baru menyadari bahwa uangku benar-benar menipis, hanya tersisa empat lembar seratus ribuan di dompetku. Semua ini lagi-lagi memaksaku kembali berpikir keras tentang terus mencari kehidupan nyaman dengan sis uangku atau pulang ke kampung, sebelum aku benar-benar menjadi pengemis seperti wanita tua itu dan menjadi gelandangan sampai akhir hidupku. Aku tahu emak dan bapak tidak akan marah jika aku pulang, walaupun bapak sampai menjual sapinya untuk ongkos aku ke Jakarta. Tapi aku yidak ingin pengorbanan bapak sia-sia karena keputusasaanku.
            Aku mulai berkompromi dengan hatiku, kuputuskan untuk tinggal sehari dan berjuang mencari kerja. Jika memang gagal, dengan terpaksa aku pulang ke kampung.
            Aku memasuki sebuah toko alat tulis yang cukup besar, sudah 5 tempat aku melamar pekerjaan hari ini. Tapi semuanya menolakku dengan alasan yang hampir sama hari-hari sebelumnya, ijasahku yang hanya setingkat SMP. Mbak penjaga toko menyambutku dengan ramah.
            “Selamat siang, mau cari apa kak?”
            “Em... saya mau melamar kerja.” jawabku sopan. Mbak penjaga toko tadi masuk ke ruangan pegawai yang ada di belakang dan memanggil pemilik toko. Sesaat kemudian muncul seorang wanita tua dengan rambut sebahu yang sudah memutih dan kacamata di hidungnya. Aku ternganga, meskipun dengan tubuh dan baju yang bersih, jalannya yang cukup tegak, tidak membungkuk seperti saat aku pertama melihatnya di trotoar jalan 1 minggu lalu. Aku masih dapat mengenalnya dengan jelas.
            “Mbak yang mau melamar kerja?” tanya wanita tua itu.
            “iya.” jawabku singkat  dengan masih terpaku padanya. Ia menanyakan banyak hal setelahnya, tapi entahlah, aku tidak begitu memperhatikannya. Perhatianku hanya terpusat pada wajah di hadapanku dan kejadian 1 minggu lalu di trotoar jalan. Hingga tanpa sadar aku tersenyum dan menggumam kecil. “siallllll”
            “Mbak! Saya mau pesan.” Aku tersadar dari lamunanku dan bergegas menghampiri meja pengunjung. Ya, aku tidak diterima bekerja di toko alat tulis itu. Tapi entahlah, setelah itu aku menjadi sangat optimis pada kehidupanku di Jakarta dan akhirnya di sinilah aku, menjadi pelayang di sebuah rumah makan masakan khas Bandung. Bukan pekerjaan yang sangat menjanjikan memang, tapi itu lebih terhormat daripada menjadi peminta-minta, walaupun itu dapat menjadikanku jutawan. Haha, lagi-lagi aku teringat wanita tua itu.

1 komentar:

  1. Ya, terima kasih, cerita yang bagus pula. Mohon lain kali, sebelum mengunggah karya, lakukan penyuntingan dulu sehingga kesalahan bisa dimninimalkan.

    BalasHapus